Pertemuan 5
Pembangunan Sosial Budaya
• Perkembangan yang pesat dan semakin responsif terhadap kebutuhan dan perubahan dalam masyarakat.
• Sebagai konsekuensinya, sudah selayaknya pemerintah kota memiliki rencana pembangunan sosial budaya yang dinamis, yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, sejalan dengan tujuan Reformasi menuju masyarakat yang demokratis dan sejahtera.
• Pembangunsn Sosial Budaya harus berpijak kepada komitmen untuk menerapkan konsep dan pendekatan pembangunan sosial sebagai proses humanisasi.
• Peduli terhadap aspirasi dan potensi masyarakat lokal yang berupa modal sosial, modal insani dan sumber daya alam yang dapat dikerahkan bagi kesejahteraan masyarakat.
• Perencanaan dan pelaksana pembangunan yang memiliki sikap, pengetahuan dan teknologi untuk menerapkan pembangunan sosial sebagai suatu pendekatan.
• Pembangunan sosial budaya menghasilkan tenaga pembangunan, yang mampu mendorong partisapasi masyarakat bagi suatu pembangunan yang berkelanjutan.
• Pemerintah mempunyai tanggung jawab agar demokratisasi dan kesejahteraan dapat terwujud. Adapun yang dapat dilakukan Pemerintah Kota , melalui kegiatan seperti pelayanan dan pengabdian masyarakat serta program beasiswa bagi yang tidak mampu.
• Pembangunan Sosial dan Otonomi Lokal, maka sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Mentalitas Masyarakat Statik
• Orientasi kebelakang, lebih terpukau oleh masa lampau yang gemerlapan sebagaimana dalam sejarah – sejarah lama, tetapi kurang tanggap terhadap masa depan yang lebih faktual sebagai tantangan,
• Fatalistik, Menyerah pada nasib, inipun produk dari sejarah kemiskinan dan kesengsaraan umumnya yang kronis.
• Menimbulkan ketidakpercayaan diri dan ketergantungan yang besar terhadap entitas – entitas dominan
• Kurang inovatif dan kreatif. Dalam masyarakat statik memang sulit untuk berinovasi dan berkreasi yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakat secara luas,
Karakter Masyarakat Statik
• Sifat indolent, lamban atau malas, banyak orang tidak merasa dikejar waktu . Beranjak dengan cepat pun tiada gunanya karena keseluruhan sistem sosial tidak mendukung atau memberikan perangsang baginya.
• Pola pikir tidak menghargai waktu atau menguasai waktu berjalan linier pula dengan pemikiran diakronik ataupun cyclus.
Mentalitas Statik
• Menilai tinggi dan mempertahankan adat istiadat dan aturan serta prosedur
• Kurang sadar mutu , karena terlampau terpikat pada apa yang sudah ada dan dianggap terbaik, maka mentalitas bekerja asal selesai dan asal ada hasilnya sangat menonjol.
• Sikap tertutup, kurang terbuka pada yang lain atau yang datang dari luar merupakan sikap dan perilaku yang khas.
• Pikiran atau pandangan dan cara – cara alternatif sebagai bahan pengambilan keputusan kurang dikenal dan agak sulit meyakonkan pada orang bermentalitas tradisionalistik.
• Mentalitas kebersamaan sangat menonjol dibanding individual . kebersamaan itu sendiri sebagai sikap dan perilaku memang mengandung nilai – nilai yang baik .
• Namun jika direntang terlampau jauh, memang menimbulkan mentalitas Konformisme dan penyakit ketergantungan serta mematikan sikap kemandirian.
posting by: Jessica Pricilia
dosen: Eko Harry Susanto
Minggu, 13 Juni 2010
Pembangunan Sosial Budaya
Pertemuan 5
Pembangunan Sosial Budaya
• Perkembangan yang pesat dan semakin responsif terhadap kebutuhan dan perubahan dalam masyarakat.
• Sebagai konsekuensinya, sudah selayaknya pemerintah kota memiliki rencana pembangunan sosial budaya yang dinamis, yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, sejalan dengan tujuan Reformasi menuju masyarakat yang demokratis dan sejahtera.
• Pembangunsn Sosial Budaya harus berpijak kepada komitmen untuk menerapkan konsep dan pendekatan pembangunan sosial sebagai proses humanisasi.
• Peduli terhadap aspirasi dan potensi masyarakat lokal yang berupa modal sosial, modal insani dan sumber daya alam yang dapat dikerahkan bagi kesejahteraan masyarakat.
• Perencanaan dan pelaksana pembangunan yang memiliki sikap, pengetahuan dan teknologi untuk menerapkan pembangunan sosial sebagai suatu pendekatan.
• Pembangunan sosial budaya menghasilkan tenaga pembangunan, yang mampu mendorong partisapasi masyarakat bagi suatu pembangunan yang berkelanjutan.
• Pemerintah mempunyai tanggung jawab agar demokratisasi dan kesejahteraan dapat terwujud. Adapun yang dapat dilakukan Pemerintah Kota , melalui kegiatan seperti pelayanan dan pengabdian masyarakat serta program beasiswa bagi yang tidak mampu.
• Pembangunan Sosial dan Otonomi Lokal, maka sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Mentalitas Masyarakat Statik
• Orientasi kebelakang, lebih terpukau oleh masa lampau yang gemerlapan sebagaimana dalam sejarah – sejarah lama, tetapi kurang tanggap terhadap masa depan yang lebih faktual sebagai tantangan,
• Fatalistik, Menyerah pada nasib, inipun produk dari sejarah kemiskinan dan kesengsaraan umumnya yang kronis.
• Menimbulkan ketidakpercayaan diri dan ketergantungan yang besar terhadap entitas – entitas dominan
• Kurang inovatif dan kreatif. Dalam masyarakat statik memang sulit untuk berinovasi dan berkreasi yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakat secara luas,
Karakter Masyarakat Statik
• Sifat indolent, lamban atau malas, banyak orang tidak merasa dikejar waktu . Beranjak dengan cepat pun tiada gunanya karena keseluruhan sistem sosial tidak mendukung atau memberikan perangsang baginya.
• Pola pikir tidak menghargai waktu atau menguasai waktu berjalan linier pula dengan pemikiran diakronik ataupun cyclus.
Mentalitas Statik
• Menilai tinggi dan mempertahankan adat istiadat dan aturan serta prosedur
• Kurang sadar mutu , karena terlampau terpikat pada apa yang sudah ada dan dianggap terbaik, maka mentalitas bekerja asal selesai dan asal ada hasilnya sangat menonjol.
• Sikap tertutup, kurang terbuka pada yang lain atau yang datang dari luar merupakan sikap dan perilaku yang khas.
• Pikiran atau pandangan dan cara – cara alternatif sebagai bahan pengambilan keputusan kurang dikenal dan agak sulit meyakonkan pada orang bermentalitas tradisionalistik.
• Mentalitas kebersamaan sangat menonjol dibanding individual . kebersamaan itu sendiri sebagai sikap dan perilaku memang mengandung nilai – nilai yang baik .
• Namun jika direntang terlampau jauh, memang menimbulkan mentalitas Konformisme dan penyakit ketergantungan serta mematikan sikap kemandirian.
posting by: Jessica Pricilia
dosen: Eko Harry Susanto
Hubungan antara Hukum dengan Komunikasi
PERTEMUAN 6
Hubungan antara Hukum dengan Komunikasi
Minggu lalau ada seorang dosen fakultas hukum yang datang untuk mengajar mata kuliah Kapita Selekta di Fikom Untar. dosen tersebut menjelaskan bagaimana hubungan antara ilmu Hukum dengan Ilmu komunikasi. beliau juga menjelaskan beberapa pandangan negara lain mengenai hukum, seperti Amerika yang mempunyai prinsip keadilan, yaitu sebagai penegak hukum yang mengikuti hak keadilan masyarakat. sedangkan Indonesia berada di tengah-tengahnya. tidak memihak kemanapun, kesiapapun.
posting by Shara
dosen Antalim
Jurnalisme warga
Pertemuan 7
Jurnalisme warga
Jurnalisme warga adalah jurnalis yang menempatkan warga sebagai subyek nya. Contoh dari kegiatan jurnalisme warga adalah ketika di Indonesia terjadi bencana alam tsunami, dll. Gambar yang didapat bukan diperoleh dari wartawan, tapi dari video amatir warga. Karena warga tidak hanya menjadi informan, melainkan juga bisa menjadi wartawan.
Fungsi media dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, Ruang Publik dan Institusi sosial. Yang maksudnya adalah:
• Ruang Publik (ruang yang hanya relevan untuk urusan bersama, yang didalamnya bisa membahas semua orang)
• Institusi sosial (melayani kepentingan masyarakat)
Media massa merupakan salah satu dari ruang publik.
Berita ( Ruang Publik)
• Berita, hardnews, softnews, feature, investigative news, dll
• Wawancara
• Talkshow
Parameternya adalah nilai berita dan kode etik.
Non berita (Ruang Privat)
• Opini, rubric bagi masyarakat untuk menulis pendapatnya tentang dunia luar (tulisan bersifat ilmiah).
• Surat pembaca, sama seperti opini, tetapi tampilan lebih pendek dan bukan tulisan bersifat ilmiah.
• Tajuk rencana, sikap media terhadap issue tertentu.
• Iklan
• Berita, karya jurnal yang harus mengandung berbagai macam syarat seperti liputan 2 sisi, dll.
Parameternya adalah kepantasan Ruang Publik (sopan atau tidak, fakta, dll), proporsionalitas, kode etik.
Yang termasuk dalam nilai berita adalah:
• Aktualitas
• Akurasi
• Keberimbangan (mewawancarai pihak yang besangkutan)
• Relevansi publik
• Prominensi
• Magnitude
• Proksimitas
• Kompetensi dasar
• Konflik
Kode etik jurnalistik :
• Berita tidak boleh berisi prasangka (harus fakta)
• Mengandung konfirmasi
• Tidak sarkastis (kasar), sadistis (sadis), dan pornografis (porno)
• Menggunakan bahasa yang benar
Dilemma jurnalisme warga adalah:
• Kecepatan vs Kelengkapan/kedalaman (detik.com, viva news, kompas.com, dll)
• Partisipatory vs Esensi/ kualitas jurnalistik (Facebook, Twitter, dll)
• Ruang privat vs Ruang publik
• Urusan privat vs Urusan publik
Urgensi jurnalisme warga ( Facebook, Twitter, dll dapat digunakan warga untuk mengungkapkan hal-hal tersebut.)
• Keterbatasan ruang untuk partisipasi politik warga
• Pemberitan media yang elitis (tidak begitu banyak membahas urusan masyarakat di akar rumput.)
• Pemilihan sumber berita pada pemberitaan media yang melulu berorientasi kepada sumber” elit (pemerintah, DPR, pakar, intelektual, aktivis.)
Autisme media (media yang tidak memikirkan apa maunya publik)
• Media yang asyik dengan dirinya sendiri
• Menentukan segala priorotas pemberitaan pertama-tama berdasarkan agenda, nilai, orientasi, dan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan minat, kepentingan dan kebutuhan pembaca.)
• Media yang tidak benar-benar menyadari pelibatan publik dalam penetuan agenda setting
• Mayoritas adalah pemberitaan satu sisi, tidak berimbang, tidak ada konfirmasi, dan cenderung menghakimi obyek berita.
• Media online mengguanakan prinsip follow up news, bahwa confirm narasumber dapat ditunda pada berita selanjutnya.
Siapapun pelaku jurnalisme warga harus memahami benar bahwa media adalah Ruang publik.
posting by: Jessica Pricilia
dosen: Agus Sudibyo
LINGKUNGAN DAN MEDIA MASSA
Pertemuan 8
LINGKUNGAN DAN MEDIA MASSA
Kesadaran masyarakat meningkat dengan cukup cepat tapi banyak yang terbatas pada slogan saja. Contoh-contoh slogan: Let’s go green, mari menanam pohon, belanja pakai tas sendiri, produk ini ramah lingkungan. Tidak ada yang salah dengan slogan, tapi kalau hanya berhenti di sana, tidak akan ada perubahan mendasar pada lingkungan, yang saat ini sudah disepakati dunia, sudah rusak dan sedang bereaksi yang berdampak kurang baik pada manusia. Isu lingkungan yang sungguh penting dan menyangkut hidup semua umat manusia, jauh lebih kompleks dari pada slogan-slogannya. Isu saat ini berkisar di isu pemanasan global atau perubahan iklim. Apa sih perubahan iklim? Apa yang sudah disepakati dunia yang menjadi penyebabnya? Temperatur dunia memanas setiap tahunnya, menyebabkan perubahan cuaca di beberapa tempat di dunia. Intinya seluruh dunia mengalami perubahan pada pola cuaca. Musim dan cuaca tak lagi bisa diramalkan dengan pola sebelumnya.
Isu Lingkungan Abad Ini: Mencari energi yang sungguh-sungguh ramah lingkungan (angin, matahari, geothermal), Menjaga hutan yang masih ada. Tiga negara dengan hutan terbesar: Brazil, Republik Congo dan Indonesia, Mengurangi polusi udara dan air, yang dipercaya bisa melepas emisi seperti CO2 dan metan ke udara, Mengurangi sampah yang juga mengeluarkan emisi, Menghemat air sebab air akan menjadi komoditi yang langka saat cuaca ekstrem menimpa manusia, Menghemat energi untuk mengurangi emisi dari fossil fuel, Mengubah gaya hidup dari yang boros menjadi yang lebih ramah lingkungan. Misalnya mengurangi daging karena peternakan intensif juga mengeluarkan emisi.
Selain itu, kita juga mengenal istilah Greenwashing, Saking ngetopnya isu lingkungan di dunia, banyak pihak memanfaatkannya untuk memperbesar keuntungan. Banyak produk dan perusahaan mengklaim bahwa praktiknya ramah lingkungan, bahwa produknya “green” (dan menjualnya lebih mahal pada konsumen yang ingin ramah lingkungan), tapi ketika dipelajari, semua bohong belaka.
Peran media untuk lingkungan
Media massa dan personilnya (wartawan, PR, praktisi iklan) semua bertanggung jawab untuk menyebar informasi yang jujur dan benar mengenai lingkungan, sebab ini menyangkut nasib dunia, nasib orang banyak. Pada praktiknya, wartawan adalah orang terdepan yang musti paling kritis di tengah situasi yang dimanfaatkan banyak orang. Dia juga harus menjadi yang pertama membela kebenaran. Nanti iklan dan PR biar mengikuti di belakang. Contoh situasi di mana wartawan (dan yang lain juga kalau mau) harus kritis: Kegiatan menanam pohon, Produk-produk mengaku ‘Go Green, Acara-acara yang mengaku untuk lingkungan tapi ternyata sponsornya sedang ramai dibicarakan merusak hutan primer di Indonesia.
Posting by: Jesica Pricilia
SIMBOL DAN ARSITEKTUR
Pertemuan 9
SIMBOL DAN ARSITEKTUR
Symbol adalah salah satu cara manusia mengekspresikan sesuatu yang telah berlangsung di semua kebudayaan sepanjang waktu, contoh: angka 8 yang berarti tidak ada titik akhirnya, angka 4 yang dipercaya dapat membawa kesialan, warna erah dalam lalu lintas yang berarti larangan, dll.
Arsitektur adalah seni dan ilmu merancang, yang meliputi semua kegiatan desain dimulai dari level mikro (desain bangunan, kompleks bangunan, dll). Makro (desain bangunan perkotaan.)
Karya arsitek sering dianggap sebagai karya seni atau sebuah symbol politik dan budaya. Misalnya, sejarah peradaban manusia sering diidentifikasikan dengan karya arsitek yang masih ada sebagai bagian perjalanan peradaban manusia itu sendiri. Vitruvius merupakan nama arsitek Roma pada awal abad 1 masehi. Budaya tradisional melibatkan factor factor yang bersifat fisik dan non fisik, seperti, kota terlarang (Forbidden City) yang terletak di Beijing. Bangunan ini merupakan penghubung antara dunia real dengan dunia kosmos (dunia para dewa). Terdapat beberapa runutan dalam pembangunan kota terlarang, runutan yang terjadi bukan berdasarkan apa yang terjdi didalam dunia kita, melainkan menurut dunia dewa. Sama halnya denhgan Candi Borobudur yang terdapat di Indonesia. Struktur Candi Borobudur diuat menjadi 10 tingkatan bukan dengan tanpa maksud. Tingkatan tersebut digambarkan seperti tingkatan Boddhisatva dalam mencapai tingkatan kesempurnaan.
Posting by: Jessica Pricilia
Dosen: Eduard Tjahjadi
NEW MEDIA vs SOSIAL MEDIA
Pertemuan 10
NEW MEDIA vs SOSIAL MEDIA
Pertemuan kali ini lebih banyak membahas mengenai betapa maraknya penggunaan new media dibandingkan dengan social media. New media meliputi:era baru jurnalisme, menyajikan semua jenis informasi, konvergensi media menjadi trend, proses produksi cross media, jurnalisme multi skill (reporter bisa melaporkan foto, video, radio, tulis, dll)
Pertumbuhan intrenet mencapai angka hingga 35 juta pengguna. Sekarang ini banyak sekali orang yang lebih sering mengakses berita atau infrmasi melalui internet. Dimulai dari berita yang serius hingga berita esek esek. Contohnya saja kasus Ponari, yang justru pertama kali keluar dan diketahui public melalui situs internet.
Facebook yang sekarang sangat dirunjingi oleh banyak orang, menempati urutan ke 3 terbesar di Asia. Sedangkan di dalam negeri sendiri, facebook menempati urutan pertama yang paling sering diakses oleh semua orang ketika mereka online.
Posting by: Jessica Pricilia
Pengajar: Viva News
SEMIOTIK
Pertemuan 11
SEMIOTIK
Semiotic berasal dari kata Yunani yang berarti tanda. Dalam bahasa Inggris berarti ilmu yang mempelajari system tanda seperti: kode, tanda, bahasa, symbol, dll. Misalnya seperti tepuk tangan di Tibet berarti mengusir setan. Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda. Tanda linguistic (antara penanda dengan petanda) bersifat abrier. Konsep tentang anjing tidak harus dibangkitkan oleh penanda dalam bentuk bunyi. Fenomena bahasa dibentuk oleh 2 faktor. Parole (ekspresi kebahasaan) dan langue system pembedaan di antara tanda tanda struktur konsepsi dasar tentang langue.
Posting by : Jessica Pricilia
Dosen : Kurnia setiawan
Langganan:
Postingan (Atom)
Minggu, 13 Juni 2010
Pembangunan Sosial Budaya
Pertemuan 5
Pembangunan Sosial Budaya
• Perkembangan yang pesat dan semakin responsif terhadap kebutuhan dan perubahan dalam masyarakat.
• Sebagai konsekuensinya, sudah selayaknya pemerintah kota memiliki rencana pembangunan sosial budaya yang dinamis, yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat, sejalan dengan tujuan Reformasi menuju masyarakat yang demokratis dan sejahtera.
• Pembangunsn Sosial Budaya harus berpijak kepada komitmen untuk menerapkan konsep dan pendekatan pembangunan sosial sebagai proses humanisasi.
• Peduli terhadap aspirasi dan potensi masyarakat lokal yang berupa modal sosial, modal insani dan sumber daya alam yang dapat dikerahkan bagi kesejahteraan masyarakat.
• Perencanaan dan pelaksana pembangunan yang memiliki sikap, pengetahuan dan teknologi untuk menerapkan pembangunan sosial sebagai suatu pendekatan.
• Pembangunan sosial budaya menghasilkan tenaga pembangunan, yang mampu mendorong partisapasi masyarakat bagi suatu pembangunan yang berkelanjutan.
• Pemerintah mempunyai tanggung jawab agar demokratisasi dan kesejahteraan dapat terwujud. Adapun yang dapat dilakukan Pemerintah Kota , melalui kegiatan seperti pelayanan dan pengabdian masyarakat serta program beasiswa bagi yang tidak mampu.
• Pembangunan Sosial dan Otonomi Lokal, maka sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Mentalitas Masyarakat Statik
• Orientasi kebelakang, lebih terpukau oleh masa lampau yang gemerlapan sebagaimana dalam sejarah – sejarah lama, tetapi kurang tanggap terhadap masa depan yang lebih faktual sebagai tantangan,
• Fatalistik, Menyerah pada nasib, inipun produk dari sejarah kemiskinan dan kesengsaraan umumnya yang kronis.
• Menimbulkan ketidakpercayaan diri dan ketergantungan yang besar terhadap entitas – entitas dominan
• Kurang inovatif dan kreatif. Dalam masyarakat statik memang sulit untuk berinovasi dan berkreasi yang bermakna bagi kesejahteraan masyarakat secara luas,
Karakter Masyarakat Statik
• Sifat indolent, lamban atau malas, banyak orang tidak merasa dikejar waktu . Beranjak dengan cepat pun tiada gunanya karena keseluruhan sistem sosial tidak mendukung atau memberikan perangsang baginya.
• Pola pikir tidak menghargai waktu atau menguasai waktu berjalan linier pula dengan pemikiran diakronik ataupun cyclus.
Mentalitas Statik
• Menilai tinggi dan mempertahankan adat istiadat dan aturan serta prosedur
• Kurang sadar mutu , karena terlampau terpikat pada apa yang sudah ada dan dianggap terbaik, maka mentalitas bekerja asal selesai dan asal ada hasilnya sangat menonjol.
• Sikap tertutup, kurang terbuka pada yang lain atau yang datang dari luar merupakan sikap dan perilaku yang khas.
• Pikiran atau pandangan dan cara – cara alternatif sebagai bahan pengambilan keputusan kurang dikenal dan agak sulit meyakonkan pada orang bermentalitas tradisionalistik.
• Mentalitas kebersamaan sangat menonjol dibanding individual . kebersamaan itu sendiri sebagai sikap dan perilaku memang mengandung nilai – nilai yang baik .
• Namun jika direntang terlampau jauh, memang menimbulkan mentalitas Konformisme dan penyakit ketergantungan serta mematikan sikap kemandirian.
posting by: Jessica Pricilia
dosen: Eko Harry Susanto
Hubungan antara Hukum dengan Komunikasi
PERTEMUAN 6
Hubungan antara Hukum dengan Komunikasi
Minggu lalau ada seorang dosen fakultas hukum yang datang untuk mengajar mata kuliah Kapita Selekta di Fikom Untar. dosen tersebut menjelaskan bagaimana hubungan antara ilmu Hukum dengan Ilmu komunikasi. beliau juga menjelaskan beberapa pandangan negara lain mengenai hukum, seperti Amerika yang mempunyai prinsip keadilan, yaitu sebagai penegak hukum yang mengikuti hak keadilan masyarakat. sedangkan Indonesia berada di tengah-tengahnya. tidak memihak kemanapun, kesiapapun.
posting by Shara
dosen Antalim
Jurnalisme warga
Pertemuan 7
Jurnalisme warga
Jurnalisme warga adalah jurnalis yang menempatkan warga sebagai subyek nya. Contoh dari kegiatan jurnalisme warga adalah ketika di Indonesia terjadi bencana alam tsunami, dll. Gambar yang didapat bukan diperoleh dari wartawan, tapi dari video amatir warga. Karena warga tidak hanya menjadi informan, melainkan juga bisa menjadi wartawan.
Fungsi media dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu, Ruang Publik dan Institusi sosial. Yang maksudnya adalah:
• Ruang Publik (ruang yang hanya relevan untuk urusan bersama, yang didalamnya bisa membahas semua orang)
• Institusi sosial (melayani kepentingan masyarakat)
Media massa merupakan salah satu dari ruang publik.
Berita ( Ruang Publik)
• Berita, hardnews, softnews, feature, investigative news, dll
• Wawancara
• Talkshow
Parameternya adalah nilai berita dan kode etik.
Non berita (Ruang Privat)
• Opini, rubric bagi masyarakat untuk menulis pendapatnya tentang dunia luar (tulisan bersifat ilmiah).
• Surat pembaca, sama seperti opini, tetapi tampilan lebih pendek dan bukan tulisan bersifat ilmiah.
• Tajuk rencana, sikap media terhadap issue tertentu.
• Iklan
• Berita, karya jurnal yang harus mengandung berbagai macam syarat seperti liputan 2 sisi, dll.
Parameternya adalah kepantasan Ruang Publik (sopan atau tidak, fakta, dll), proporsionalitas, kode etik.
Yang termasuk dalam nilai berita adalah:
• Aktualitas
• Akurasi
• Keberimbangan (mewawancarai pihak yang besangkutan)
• Relevansi publik
• Prominensi
• Magnitude
• Proksimitas
• Kompetensi dasar
• Konflik
Kode etik jurnalistik :
• Berita tidak boleh berisi prasangka (harus fakta)
• Mengandung konfirmasi
• Tidak sarkastis (kasar), sadistis (sadis), dan pornografis (porno)
• Menggunakan bahasa yang benar
Dilemma jurnalisme warga adalah:
• Kecepatan vs Kelengkapan/kedalaman (detik.com, viva news, kompas.com, dll)
• Partisipatory vs Esensi/ kualitas jurnalistik (Facebook, Twitter, dll)
• Ruang privat vs Ruang publik
• Urusan privat vs Urusan publik
Urgensi jurnalisme warga ( Facebook, Twitter, dll dapat digunakan warga untuk mengungkapkan hal-hal tersebut.)
• Keterbatasan ruang untuk partisipasi politik warga
• Pemberitan media yang elitis (tidak begitu banyak membahas urusan masyarakat di akar rumput.)
• Pemilihan sumber berita pada pemberitaan media yang melulu berorientasi kepada sumber” elit (pemerintah, DPR, pakar, intelektual, aktivis.)
Autisme media (media yang tidak memikirkan apa maunya publik)
• Media yang asyik dengan dirinya sendiri
• Menentukan segala priorotas pemberitaan pertama-tama berdasarkan agenda, nilai, orientasi, dan keyakinannya sendiri, bukan berdasarkan minat, kepentingan dan kebutuhan pembaca.)
• Media yang tidak benar-benar menyadari pelibatan publik dalam penetuan agenda setting
• Mayoritas adalah pemberitaan satu sisi, tidak berimbang, tidak ada konfirmasi, dan cenderung menghakimi obyek berita.
• Media online mengguanakan prinsip follow up news, bahwa confirm narasumber dapat ditunda pada berita selanjutnya.
Siapapun pelaku jurnalisme warga harus memahami benar bahwa media adalah Ruang publik.
posting by: Jessica Pricilia
dosen: Agus Sudibyo
LINGKUNGAN DAN MEDIA MASSA
Pertemuan 8
LINGKUNGAN DAN MEDIA MASSA
Kesadaran masyarakat meningkat dengan cukup cepat tapi banyak yang terbatas pada slogan saja. Contoh-contoh slogan: Let’s go green, mari menanam pohon, belanja pakai tas sendiri, produk ini ramah lingkungan. Tidak ada yang salah dengan slogan, tapi kalau hanya berhenti di sana, tidak akan ada perubahan mendasar pada lingkungan, yang saat ini sudah disepakati dunia, sudah rusak dan sedang bereaksi yang berdampak kurang baik pada manusia. Isu lingkungan yang sungguh penting dan menyangkut hidup semua umat manusia, jauh lebih kompleks dari pada slogan-slogannya. Isu saat ini berkisar di isu pemanasan global atau perubahan iklim. Apa sih perubahan iklim? Apa yang sudah disepakati dunia yang menjadi penyebabnya? Temperatur dunia memanas setiap tahunnya, menyebabkan perubahan cuaca di beberapa tempat di dunia. Intinya seluruh dunia mengalami perubahan pada pola cuaca. Musim dan cuaca tak lagi bisa diramalkan dengan pola sebelumnya.
Isu Lingkungan Abad Ini: Mencari energi yang sungguh-sungguh ramah lingkungan (angin, matahari, geothermal), Menjaga hutan yang masih ada. Tiga negara dengan hutan terbesar: Brazil, Republik Congo dan Indonesia, Mengurangi polusi udara dan air, yang dipercaya bisa melepas emisi seperti CO2 dan metan ke udara, Mengurangi sampah yang juga mengeluarkan emisi, Menghemat air sebab air akan menjadi komoditi yang langka saat cuaca ekstrem menimpa manusia, Menghemat energi untuk mengurangi emisi dari fossil fuel, Mengubah gaya hidup dari yang boros menjadi yang lebih ramah lingkungan. Misalnya mengurangi daging karena peternakan intensif juga mengeluarkan emisi.
Selain itu, kita juga mengenal istilah Greenwashing, Saking ngetopnya isu lingkungan di dunia, banyak pihak memanfaatkannya untuk memperbesar keuntungan. Banyak produk dan perusahaan mengklaim bahwa praktiknya ramah lingkungan, bahwa produknya “green” (dan menjualnya lebih mahal pada konsumen yang ingin ramah lingkungan), tapi ketika dipelajari, semua bohong belaka.
Peran media untuk lingkungan
Media massa dan personilnya (wartawan, PR, praktisi iklan) semua bertanggung jawab untuk menyebar informasi yang jujur dan benar mengenai lingkungan, sebab ini menyangkut nasib dunia, nasib orang banyak. Pada praktiknya, wartawan adalah orang terdepan yang musti paling kritis di tengah situasi yang dimanfaatkan banyak orang. Dia juga harus menjadi yang pertama membela kebenaran. Nanti iklan dan PR biar mengikuti di belakang. Contoh situasi di mana wartawan (dan yang lain juga kalau mau) harus kritis: Kegiatan menanam pohon, Produk-produk mengaku ‘Go Green, Acara-acara yang mengaku untuk lingkungan tapi ternyata sponsornya sedang ramai dibicarakan merusak hutan primer di Indonesia.
Posting by: Jesica Pricilia
SIMBOL DAN ARSITEKTUR
Pertemuan 9
SIMBOL DAN ARSITEKTUR
Symbol adalah salah satu cara manusia mengekspresikan sesuatu yang telah berlangsung di semua kebudayaan sepanjang waktu, contoh: angka 8 yang berarti tidak ada titik akhirnya, angka 4 yang dipercaya dapat membawa kesialan, warna erah dalam lalu lintas yang berarti larangan, dll.
Arsitektur adalah seni dan ilmu merancang, yang meliputi semua kegiatan desain dimulai dari level mikro (desain bangunan, kompleks bangunan, dll). Makro (desain bangunan perkotaan.)
Karya arsitek sering dianggap sebagai karya seni atau sebuah symbol politik dan budaya. Misalnya, sejarah peradaban manusia sering diidentifikasikan dengan karya arsitek yang masih ada sebagai bagian perjalanan peradaban manusia itu sendiri. Vitruvius merupakan nama arsitek Roma pada awal abad 1 masehi. Budaya tradisional melibatkan factor factor yang bersifat fisik dan non fisik, seperti, kota terlarang (Forbidden City) yang terletak di Beijing. Bangunan ini merupakan penghubung antara dunia real dengan dunia kosmos (dunia para dewa). Terdapat beberapa runutan dalam pembangunan kota terlarang, runutan yang terjadi bukan berdasarkan apa yang terjdi didalam dunia kita, melainkan menurut dunia dewa. Sama halnya denhgan Candi Borobudur yang terdapat di Indonesia. Struktur Candi Borobudur diuat menjadi 10 tingkatan bukan dengan tanpa maksud. Tingkatan tersebut digambarkan seperti tingkatan Boddhisatva dalam mencapai tingkatan kesempurnaan.
Posting by: Jessica Pricilia
Dosen: Eduard Tjahjadi
NEW MEDIA vs SOSIAL MEDIA
Pertemuan 10
NEW MEDIA vs SOSIAL MEDIA
Pertemuan kali ini lebih banyak membahas mengenai betapa maraknya penggunaan new media dibandingkan dengan social media. New media meliputi:era baru jurnalisme, menyajikan semua jenis informasi, konvergensi media menjadi trend, proses produksi cross media, jurnalisme multi skill (reporter bisa melaporkan foto, video, radio, tulis, dll)
Pertumbuhan intrenet mencapai angka hingga 35 juta pengguna. Sekarang ini banyak sekali orang yang lebih sering mengakses berita atau infrmasi melalui internet. Dimulai dari berita yang serius hingga berita esek esek. Contohnya saja kasus Ponari, yang justru pertama kali keluar dan diketahui public melalui situs internet.
Facebook yang sekarang sangat dirunjingi oleh banyak orang, menempati urutan ke 3 terbesar di Asia. Sedangkan di dalam negeri sendiri, facebook menempati urutan pertama yang paling sering diakses oleh semua orang ketika mereka online.
Posting by: Jessica Pricilia
Pengajar: Viva News
SEMIOTIK
Pertemuan 11
SEMIOTIK
Semiotic berasal dari kata Yunani yang berarti tanda. Dalam bahasa Inggris berarti ilmu yang mempelajari system tanda seperti: kode, tanda, bahasa, symbol, dll. Misalnya seperti tepuk tangan di Tibet berarti mengusir setan. Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda. Tanda linguistic (antara penanda dengan petanda) bersifat abrier. Konsep tentang anjing tidak harus dibangkitkan oleh penanda dalam bentuk bunyi. Fenomena bahasa dibentuk oleh 2 faktor. Parole (ekspresi kebahasaan) dan langue system pembedaan di antara tanda tanda struktur konsepsi dasar tentang langue.
Posting by : Jessica Pricilia
Dosen : Kurnia setiawan
Langganan:
Postingan (Atom)
